.........Welcome To My Blog,,,,
........This
blog provides information for friends on a true story, health, motivation, and much more,,,,,,
including course material though.............

Rabu, 25 Desember 2013

Matahari Di Ufuk Barat



Tak terasa liburan semester sudah dipeluk mata, siswa-siswi penghuni kelas VII SMP Negeri 2 Rawa sudah bergembira menyambutnya. Ani salah satunya, gadis paling cantik di kelas itu dan bahkan kecantikannya tidak ada yang bisa menandinginya di sekolah itu. Wajar jika banyak siswa laki-laki yang tertarik dengan paras Ani yang begitu cantik dan seksi. Tidak hanya siswa, guru pria yang ada di sekolah itu juga jatuh pandagan dengan Ani. Tetapi, bagi ani kecantikan bukanlah tujuannya sehingga tak dia tidak menghiraukan godaan-godaan yang datang dari para pria-pria yang makin menjadi-jadi itu.

Buku laporan pendidikan sudah ada ditangannya, semua nilainya bagus-bagus tetapi nilai bahasanya menurun satu poin dari semester lalu. Di samping kecantikannya Ani memang anak yang tergolong pandai di kelasnya. Sejak SD sudah banyak piagam dan piala direbutnya dengan menjuarai berbagai macam lomba. Mata pelajaran yang paling disukainya adalah matematika. Otak ani sama seperti komputer bisa menghitung cepat tanpa menggunakan kalkulator yang biasa digunakan anak lainnya. Mungkin karena ani sering membantu ibunya jualan di warung sehingga sudah terbiasa merasakan angka dipikirannya. Wajar jika nilai perolehan mata pelajaran kesukaannya itu nyaris dapat seratus, nyangkut 0,1 poin. Tetapi walaupun kali ini ani mampu mengamankan posisi satu di kelasnya seperti pada semester yang lainnya, Ani tetap menjadi gadis yang rendah hati dan tidak menampakkan kepandaiannya itu. Ani tetap lugu dan merasa bersyukur atas pencapaiannya, malah hal ini bisa memacunya untuk lebih baik lagi dimasa mendatang, “imbuhnya”.
Hari libur sudah mulai, Ani sekarang fokus membantu ibunya jualan di warung depan rumahnya. Memang warungnya sederhana, tetapi pengunjungnya lumayan ramai tiap harinya seperti mini market yang ramai dikunjungi pembeli, bahkan tidak tanggung-tanggung pembeli yang bermobilpun sering mampir. Ani tinggal bersama ayah dan ibu angkatnya, namanya pak Toton dan ibu Sinta. Mereka mengadopsi Ani ketika masih berumur dua tahun di sebuah panti yang ada di kota solo. Awalnya mereka bertiga tinggal di Solo tetapi kerena ayahnya, pak Toton dipindah tugaskan mereka lalu pindah ke Kalimantan hingga sekarang. Sebenarnya Ani memiliki saudara laki-laki yang usianya hanya berselisih setahun sama-sama tinggal di panti tersebut tetapi saudaranya itu terlebih dahulu di adopsi oleh sebuah keluarga kaya dari kota Magetan, sejak saat itu Ani tidak perna lagi bertemu dengan saudaranya itu.
Selama liburan Ani, sangat rajin membaca buku semenjak melihat nilai bahasanya turun satu poin.
Katanya, “aku harus rajin membaca, mungkin karena menghitung mulu jadi lupa baca.”
Tindakan ani sangat didukung oleh ibunya, ibu Sinta demikian juga pak Toton, ayah angkat Ani.
Tak terasa hari libur sudah memasuki hari ke-14 artinya senin besok sudah mulai beraktivitas sebagai mestinya. Malamnya Ani sudah mempersiapkan buku yang hendak dibawa ke sekolah. Ranselnya sesak dengan buku-buku pelajaran, tidak lupa seragam putih biru sudah menggantung di dinding masih terasa bekas setrika.
Suara ayam saling sahut bersahutan, suara adzanpun bergema di masjid tak jauh dari rumah pak Toton, Ani segera membereskan tempat tidur dan segera mengambil wudhu untuk sholat berjamaah dengan keluarganya. Seperti biasanya Ani diantar ke sekolah sama pak Toton tetapi karena ada urusan yang sangat penting di kantornya membuat hari pertama Ani harus jalan sendiri ke sekolah.
“Ini hari pertama sekolah, aku harus belajar untuk jalan sendiri ke sekolah,” seru Ani memberi semangat pada dirinya.
Ani sebenarnya lebih suka jalan ke sekolah tetapi itu kalo memang pak Toton sangat terdesak sampai tidak bisa mengantar atau menjemput Ani. Pak Toton khawatir anaknya itu diganggu sama lelaki nakal yang sering mangkal di pinggir jalan jadinya Ani selalu diantar jemput oleh ayah angkatnya.
Suara riuh, gaduh mewarnai kelas VII A, semua siswa-siswi asyik bercengkrama satu sama lain menceritakan pengalaman selama liburan. Malah ada yang sampai duduk di atas mejanya. Tiba-tiba suara gaduh berubah jadi nampak hening ketika ibu Rosyana sang kepala sekolah memasuki pintu kelas VII A. Siswa saling berhamburan ke mejanya masing-masing. Nampaknya ibu Rosyana tidak sendirian, ternyata seorang anak laki-laki berusia 14-an mengekor di belakangnya.
“Masuk nak,” seru ibu Rosyana.
“iya bu”, jawab anak laki-laki itu dengan lugu.
“anak-anak, kita kedatangan siswa baru di kelas ini,” sahut ibu Rosyana.
“sekarang ini kelasmu, tolong perkenalkan kepada siswa yang lain,” pintah bu Rosyana.
“perkenalkan, nama saya Arif Budiman. Biasa dipanggil Arif.”
“saya asalnya dari Magetan.”
“Baik, sekarang Arif duduk di kursi kosong sana,” kata bu Rosyana sambil menunjuk kursi kosong di samping Ani.
Arif pun bergegas menuju kursi yang sudah ditunjuk oleh bu Rosyana, Sementara Ibu Rosyana segera meninggalkan kelas VII A menuju ruangannya.
Kebetulan hari pertama sekolah, kelas VII A masih terasa tampak libur. Ibu Rafidah yang seharusnya masuk di jam pertama untuk matapelajaran Bahasa Inggris belum muncul-muncul juga, ruangan kelas kembali gaduh apalagi disusul bunyi bel istirahat mulai berdering. Tampak siswa-siswi meninggalkan ruangan kelas entah buat jajan, ke perpustakaan atau sedekar nongkrong di bawah rindangnya pohon mangga yang berada di depan kelas VII A.
“Hai Rif,,saya Anton ketua kelas VII A?” Sapa Anton sambil menyodorkan tangannya.
“Arif,” sambil menyalami Anton.
“Nganting yuk,,, sekedar tourlah di sekolah baru kamu...” sergah Anton kepada Arif.
“Iya, nanti aja Ton. Saya masih capek nhe, lain kali aja yah.” Balas Arif.
“Oke Rif, saya duluan yah.” kata Anton.
Ternyata Ani juga hari itu sepertinya agak lemas mungkin karena selama liburan jarang istirahat sibuk membantu ibunya di warung sehingga capeknya baru terasa sekarang. Arif memang baru tiba pagi tadi dari Magetan dengan pesawat penerbangan pertama buat mengejar waktu sekolah perdananya. Tetapi mereka nampaknya masih malu-malu untuk memberanikan diri mengeluarkan satu patah katapun diantara keduanya. Sejak Arif duduk di kursi sebelah Ani, belum perna sepatah katapun keluar dari mulut Ani.
“hai, boleh kita kenalan..??? rasanya kita belum perna bicara sepatahkatapun dari tadi. Namaku Arif, kan kamu sudah dengar tadi sewaktu perkenalan di depan”. Arif berusaha memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
“Iya, aku, aku, Ani.!” Jawab Ani. Tapi nampaknya Ani merasa canggung duduk dengan seorang pria yang baru dikenalnya.
“tinggal dimana.???” Arif sudah sepertinya ingin tahu lebih jauh dari Ani.
“di Jln Kinung,” jawab Ani singkat.
“wah, sama. kebetulan aku juga tinggal situ, kemarin keluargaku baru pindah tapi saya nyusulnya hari ini. maklum masih urus surat pindah.” Arif sudah merasa Ani sebagai kawan.
“oh, samping rumah pak RT yah,” lanjut Ani.
“soalnya saya dengar dari ibuku, rumah pak Nyoman dibeli sama seorang pengusaha dari jawa,” papar Ani.
“Iya, betul itu. Saya dan keluargaku akan menghuni rumah itu sekarang.” Jawab Arif dengan sebuah senyuman menggoda.
Sejak percakapan singkat itu mereka sudah merasa akrab sebagai teman sekolah, teman kelas dan lebih lagi menjadi tetangga.
Tak terasa waktu berjalan, hari-hari mereka semakin diliputi rasa yang amat dalam, sepertinya ada perasaan lebih dari keduanya, baik itu Arif demikian juga Ani. Hampir separuh waktu mereka habiskan bersama. Ke sekolah dan pulang barengan, di kelas malah duduk bersebelahan ditambah kerja tugas bersama. Arif jago bahasa tapi lelet pada mata pelajaran berhitung sementara Ani jagonya hitungan tapi kadang lelet pada pelajaran bahasa sehingga mereka saling menutupi kelemahan dan kelebihan mereka.
Sejak Ani baku kenal dengan Arif, pak Toton sudah jarang mengantar Ani ke sekolah soalnya Ani sudah punya teman barengan ataupun pulang sekolah. Arif tidak mau menampakkan kekayaan ayahnya padahal sebenarnya dia anak satu-satunya yang dimiliki oleh pasangan pak Hendrawan dan ibu Sukma dengan segala kemewahan malah ada mobil lengkap dengan sopirnya siap mengantarkan Arif kemana ia pergi, tetapi Arif lebih suka ke sekolah dengan jalan kaki. Walaupun sebenarnya Arif belum tahu bahwa dirinya itu anak adopsi dari sebuah panti karena segala kemewahan sudah dirasakan sejak dirinya di adopsi dari panti yang waktu itu masih berumur dua tahun. Tetapi keluarga pak Hendrawan dan ibu Sukma sangat menyayangi  Arif melebihi anak kandungnya.
Suatu hari Arif menelpon ke rumah Ani dengan maksud mengajaknya jalan-jalan ke pantai yang letaknya sekitar 5 km dari tempat tinggal mereka. Tiba-tiba telepon berdering.
“haloo, dengan siapa..??”, sapa Ani.
“hei, ini Arif. Ada waktu luang buat hari ini..??”, tanya Arif.
“emang, kenapa...? ada kok.” jawab Ani.
“tidak, kalo kamu ada waktu dan mau,, saya mau ke pantai biar kita sama-sama dah.” Usul Arif.
“iya, bisa. Lagi pula aku sudah lama tidak main ke pantai. Tapi aku tanya dulu ibu, tunggu yah,” sambil berlari ke arah dapur minta izin sama ibunya.
“iya, kataya bisa. Jam berapa berangkatnya..???”, tanya Ani.
“sekarang, kamu siap-siap saja nanti aku datang jemput,” jawab Arif.
“iya,” seru Ani dengan perasaan gembira karena sudah lama ingin pergi ke pantai tetapi pak Toton dan ibu Sukma belum ada waktu buat liburan dengan Ani.
Sesuai janjinya, Arif dan sopirnya pak Mail datang menjemput Ani dengan sebuah mobil avanza hitam. Mereka tidak lupa pamitan kepada ibu Sukma, ibu angkat Ani. Kemudian mobil yang mereka tumpangi itupun melaju ke arah pantai.
Tak diduga dan tak disangka mereka tiba-tiba memakai kalung yang sama. Sebenarnya kalung itu tidak lain kalung emas pemberian ibu kandung mereka sebelum meninggal dalam sebuah kecelakaan dan meminta seorang suster yang merawatnya untuk menitipkan kedua anaknya di sebuah panti. Kalung itu memiliki liotin inisial A yang mewakili nama mereka yaitu Arif dan Ani. Tetapi dibalik liontin itu terdapat tulisan kecil menandakan nama mereka dan keduanya saling ditukar. Liontin yang dipakai Arif tertulis kecil nama Mulyani demikian sebaliknya Arif. Nama Ani diambil dari nama lengkapnya Mulyani tetapi orang lebih senang memanggilnya Ani. Selama ini Ani penasaran dengan nama Arif Budiman dibalik liotin yang dia punya. Namun Arif tidak perna merasakan hal itu bahwa dibalik liountin yang dipakainya sehari-hari ada sebuah tulisan kecil dengan nama Mulyani. Mungkin sudah waktunya untuk bertemu hingga Tuhan mengirim Arif pindah dari Magetan ke Pontianak untuk bertemu dengan saudaranya itu.
Dari perasaan yang ingin tahu yang lebih dalam, Ani ingin sekali menanyakan hal itu tetapi takuti Arif tersinggung dengan pertanyaan yang dilontarkannya. Tiba-tiba Arif menunduk dan liontin yang menggantung dilehernya itu berbalik dan tampak jelas tulisan kecil Mulyani. Ani keheranan sampai gemetaran, perasaannya tak karuan.
“ni, Ani,,,.. kamu ada apa..??? kok kamu kelihatan gemetar kayak ada sesuatu yang aneh..??” tanya Arif dengan keheranan.
“kamu sakit..???” lanjut Arif.
“tidak Rif,, aku, aku, baik-baik saja,,,” jawab Ani.
“tapi mukamu pucat,” tanya Arif lagi.
Ani hanya terdiam, ingin sekali melontarkan pertanyaan itu.
“Rif, boleh aku tanya sesuatu,,,???” kata Ani.
“boleh,” jawab Arif singkat.
“Arif, kenapa kita menggunakan kalung yang sama..???” tanya Ani dengan tegas.
“maksud kamu,..??? ya mungkin sama tempat belinya kali.. atau mungkin...” Arif jadi bingung dengan pertanyaan Ani.
“tidak Rif, liontin yang kamu pakai itu sama. Sama-sama inisial A tetapi bukan itu. Dibalik liontin itu tertulis nama kita, yang aku punya tertulis namamu sedang aku perhatikan tadi sewaktu botol minummu jatuh tampak jelas namaku tertulis dibalik liontin yang kamu pakai.” Jelas Ani sambil memperlihatkan liontin yang ia pakai.
Arif hanya terdiam dan keheranan , bingung bercampur aduk jadi satu. Suasana dalam mobil jadi sunyi dan hanya isak tangis Ani yang sesekali terdengar tetapi Arif masih tampak bingung.
Mereka saling bergantian memandang dan berkata,
“apakah kita saudara...???” 


Belum sempat mulut mereka mengatup rapat, tiba-tiba terdengar suara letusan, buukk. Ternyata suara itu tidak lain bunyi letusan ban mobil yang mereka tumpangi oleng hingga menabrak pembatas jalan terjun ke jurang sedalam 2 meter. Tak ada yang selamat dari tragedi itu, orangtua angkat mereka hanya bisa bersedih tetapi Ani dan Arif sudah berkumpul bersama keluarganya di alam sana walaupun masih menyisahkan sebuah pertanyaan apakah mereka benar-benar saudara kandung atau tidak.
 


                                                                   @@@@@The End@@@@@

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar