.........Welcome To My Blog,,,,
........This
blog provides information for friends on a true story, health, motivation, and much more,,,,,,
including course material though.............

Senin, 24 Juni 2013

Mengukir hidup di atas jalanan



Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan yang berbeda-beda dan berpasang-pasangan. Tidak ada yang mengetahui dirinya kedepan akan bagaimana 10 tahun yang akan datang. Semua rencana di dunia ini sudah diatur olehNya. Manusia hanya lakon atau pemain dalam sebuah skenario yang tersusun dengan rapi di atas panggung sandiwara. Tujuh tahun silam sebuah jalan perna menjadi saksi perjalanan hidup yang penenuh liku-liku tapi walaupun begitu rasa syukur selalu tercurah pada yang Kuasa atas nikmat-nikmatNYa yang tak henti-hentinya pada umat yang Dia kasihi.  Waktu itu masih mengenyam pendidikan di bangku SMP, bulan ramadhan yang seharusnya dinikmati dengan lafaz ayat-ayat Alquran dan hafalan do’a-do’a diganti dengan batu kerikil hitam dan cadasnya batu gunung serta gudukan-gudukan pasir dan aspal panas. Kebutuhan semakin mendesak apalagi tak sengaja mendengar suara ibu yang dalam gelapnya malam berbicara sendiri tentang kebutuhan rumah tangga. Ayah yang waktu itu tak ada di rumah merantau di tanah ambon nan jauh itu belum ada kabarnya akan mengirimkan uang bulanan bulan untuk kebutuhan bulan ramadhan sementara kakak menempuh pendidikan D3nya di kota makassar mengabarkan mengirimkan pesan bahwa pembayaran SPPnya bertepatan dengan bulan ramadhan itu juga. Ibu yang tidak memiliki perkerjaan dan hanya mengharapkan buah jambu menteh bingung padahal jambu menteh yang menjadi harapan jangankan berbuah berbungapun belum.
Aku hanya terdiam di dalam kamar yang kebetulan bersebelahan dengan kamar ibu, air mataku menetes-netes membasahi bantal dengan terisak kecil. Tak tahu apa yang hendak kuperbuat untuk membantu ibu keluar dari jurang kesulitan yang melilit keluarga kami. Aku masih kecil dan di kampung kami itu pekerjaan sangat sulit di dapat maka itulah banyak lelaki yang memilih merantau  seperti yang dirasakan oleh ayahku. Belum cukup umurku satu tahun ayahku pergi merantau ke tanah ambon sektar tahun 1993 masih zaman orde baru. Ayahku memilih merantau daripada tinggal di kampung halaman kami yang mayoritas penduduknya petani kecil yang hanya mengandalkan peralatan seadanya dalam menggarap kebun. Tak ada pekerjaan untuk anak kecil yang cocok untuk umurku ini, kilahahku dalam hati. Anak-anak seusiaku menikmati bulan ramadhan 2007 itu dengan suka ceria dan permainan-permainan yang mengasyikkan tapi aku tak berpikir sedikitpun untuk itu. Aku hanya berpikir bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan untuk membantu ibuku paling tidak saat lebaran nanti aku bisa beli pakaian baru dengan hasil jeripayahku.
Tak terasa matahari pagi sudah memancarkan sinarnya, aku bergegas bangun mengambil air wudhu, sholat subuhku terlambat tapi aku berpikir daripada tidak sholat mending sholat saja urusan diterima tidaknya itu urusan belakangan. Terdengar kabar ada dicari buruh jalanan untuk sebuah proyek pengaspalan jalan RSUD di kabupaten sekitar 20 kilometer dari kampung tempat tinggalku. Bergegas aku melangkahkan kaki ke rumah pak mandor yang kebetulan tetangga rumahku.

Dengan berbagai pertanyaan yang disedorkan pak mandor akhirnya aku diterima untuk ikut menjadi buruh tapi tiba-tiba perasaanku deg-dukan apakah ibu akan menyetujui apa yang sedang kulakukan ini. Aku pulang dengan langkah seribu untuk meminta persetujuan ibu. Awalnya ibu tidak setuju dan malah mengatasi apa kamu sudah tidak waras? Kamu masih kecil dan itu pekerjaan yang berat bukan pekerjaan ringan layaknya menulis di atas kertas seperti di sekolahmu. Berbagai alasan kulontarkan hingga akhirnya ibu setuju, aku yakin ibu hanya tidak tega melihatku yang masih kecil ini sudah menaggung beban dengan rela kerja di jalanan yang berdebu dan panas terik matahari. Ibu merasa iba melihatku tersenyum tapi perasaan ibu berkecamuk menangis sampai aku lihat ibu mengusap air matanya di belakangku.
Keesokan harinya akupun bangun lebih awal mempersiapkan segala kebutuhan yang hendak menemaniku seperti alat sholat, alquran kecil dan jerigen air buat wudhu untuk sholat dzuhur dan ashar karena pekerjaan hanya sampai jam 4 sore. Lokasi proyek agak jauh dari rumah setiap pagi aku dan para pekerja lainnya di jemput oleh sebuah mobil truk yang disediakan untuk mengangkut para buruh ke lokasi. Ini hari pertamaku “pikirku dalam hati” tak henti-hentinya berpikir membayangkan bagaimana aku bisa bekerja seperti buruh lainnya dari hampir 30 buruh hanya aku sendiri anak kecil semua pada dewasa malah semuanya sudah berkeluarga. Aku sedikit takut tapi ketakutan itu berganti menjadi hal yang menyenangkan, mereka menyayangiku dan membuatku tertawa dengan cerita-cerita lucunya. Canda tawa kami tak habis-habisnya sampai tak terasa kami sudah sampai di tempat kerja. Tiba-tiba mobil yang mengangkut kami berhenti. Pak mandorpun turun dan mengarahkan kami bahwa inilah lokasi tempat kami akan bekerja, akupun turun dari mobil dengan semangat.
Tumpukan pasir, kerikil, batu gunung dan drum-drum aspal tersebar di pinggir-pinggir jalan kamipun bertebaran mencari tempat yang ditunjuk oleh pak mador untuk memulai pengaspalan jalan. Hari pertama memang sangat-sangat menyiksa, terik matahari begitu menyengat seperti apa yang dikatakan ibu sebelumnya. Tidak ada tempat berteduh, pepohonan jarang hany sebuah rawa-rawa yang ada dipinggir jalan belum lagi kondisi perut yang sementara puasa harus menahan diri dari segala suatu yang membatalkan seperti minum apalagi makan. Bersyukurlah aku walaupun masih kecil, aku bisa puasa padahal banyak pekerja lainnya yang memiliki tubuh yang besar tidak puasa. Dengan begitu orang semakin sayang padaku dan maklum. Tidak ada perbedaan semua orang harus kerja sesuai dengan instruksi dari pak mandor, kecil-besar, tua-dewasa semuanya tanpa terkecuali.
Hari pertama aku sering membuat kesalahan-kesalahan, kadang ketika aku kena giliran membawa gerobak mungkin tidak bisa kukendalikan karena beban yang terlalu berat, gerobak itu masuk kedalam aspal yang masih panas. Kadang dimarahi juga kadang dimaklumi tapi aku harus menerimanya dengan sekuat hati dan penuh sabar. Disinilah aku akan belajar tentang bagaimana kehidupan yang sebenarnya, kehidupan orang-orang kecil dengan beban pekerjaan yang berat tetapi gaji cuman 2 lembar uang 10.000 memang sungguh kejam kalau kita berpikir sinis.
Jika jam istirahat tiba, tak kenal lagi ini bersih atau tidak kurebahkan tubuh yang lelah dan haus dahaga itu ke tanah. Semua orang yang berpuasapun begitu tapi ketika tiba waktu sholat kami semua mencari sumur untuk membersihkan diri baru menghadapi yang Kuasa sementara yang tidak berpuasa mereka sibuk dengan bekal mereka.
Hari sudah petang kami siap-siap lagi untuk balik ke rumah, mobil yang tadi pagi mengantar kami sudah siap-siap mengantar kami pulang. Senyum kecil dibibir merahku terbesit juga dan akhirnya hari pertamaku bisa tertaklukan. Tangan mungilku yang dahulu halus kini sudah lecet malah dengan bekas goresan bebatuan kerikil malah ditengah telapak tanganku seperti lingkaran dengan diameter 2 cm benar-benar luka bukan lagi goresan. Nampaknya begitu perih tapi aku harus menahannya dan hal ini tidak mungkin aku beritahukan pada ibu. 15 menit sebelum bedug magrib berbunyi truk yang membawa para buruh tiba di depan rumahku, akupun melangkah turun dari truk dengan senyuman yang belum perna aku bayangkan sebelumnya bisa seperti orangtua yang rasanya punya beban pada keluarga. Pertama-tama aku menyalami ibu kemudian bergegas mandi untuk menantikan bedug magrib di mesjid berbunyi. Tak lama kemudian puasa hari itu aku tutup dengan secangkir teh panas dan segelas air putih yang diberi sedikit es. Dahaga sepanjang hari yang begitu terasa menyiksa telah usai, ibu sangat senang melihatku makan mencicipi kue yang dihidangkan sebelum melaksanakan sholat magrib.
Semakin hari kesalahan-kesalahan dalam bekerja bisa kuperbaiki, hingga pak mandor salut dengan apa yang kulakukan karena aku punya kelebihan dari yang lain. Masih kecil dan mampu puasa diantara kebanyakan orang dewasa yang semestinya mereka contoh bagiku tapi malah aku yang menjadi contoh bagi mereka. Tiga hari sebelum lebaran proyek dihentikan mengingat lebaran sudah semakin dekat begitupula material yang digunakan untuk proyek terhambat karena beberapa hal. Hari itu aku merasa senang dengan menerima upah yang tidak begitu besar namun bagi ukuranku itu sudah sangat besar, uang sejumlah 350.000 kuberikan kepada ibu. Betapa bahagianya ibu melihatku memberikan uang dari tangan seorang anak kecil sampai air mata ibu tidak terbendung mengalir dipipih yang sudah keriput. Aku sangat merasa bangga atas apa yang kulakukan untuk bulan ramadhan kali ini aku yang menanggung zakat fitrahnya keluargaku. Aku memilih tidak membeli pakaian baru, rasa terharu menyelimuti keluarga kecilku yang tidak lengkap itu karena ayah mesti lebaran lagi ditempat perantauannya.
Apa yang kita lakukan meskipun itu mungkin berat tetapi jika itu dilandasi dengan niat dan hati yag tulus semuanya akan mudah. Tak ada kata untuk menyerah atas semua masalah yang ada di dunia ini, yakin Tuhan akan memberikan jalan keluar maka banyak-banyaklah mengingatNya. Berbahagialah orang yang lahir di dunia ini dengan kemewahan yang didapat sejak lahir hingga saat ini karena semua orang menginginkannya tetapi ada yang namanya tadir yang sudah menjadi ketentuan Tuhan. Mungkin apa yang diceritakan hanyalah sebuah peristiwa kecil tetapi ada diluar sana yang selama ini masih merasakan kehidupan yang begitu memilukan. Semoga kita tersentuh untuk selalu berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar