.........Welcome To My Blog,,,,
........This
blog provides information for friends on a true story, health, motivation, and much more,,,,,,
including course material though.............

Kamis, 05 Februari 2015

Koran Vs Pajak



Sekitar pukul 10.15 wita, dengan terburu-buru melangkahkan kaki menuju Gedung Pajak Makassar Pratama Utara. Aku mendapat mandat untuk melapor pajak salah satu orang yang belum lama kenal dengannya. Aku sudah membuat janji dengan konsultan pajak di kantor tersebut untuk menemuinya pada pukul 10.00 wita. Aku sedikit terlambat dari jadwal yang aku janjikan. Belum lagi kali ini, aku mendapat teguran dari sang security yang sedang jaga di salah satu pos keamanan karena salah parkir. Biasanya depan masjid yang berada di dalam gedung keuangan itu ramai oleh kendaraan roda dua parkir di depan halaman masjid tersebut. Tapi kali ini, aku juga merasa ada yang aneh karena tak satupun motor yang parkir selain motorku. Dengan perasaan jengkel dan merasa bersalah aku langsung kebut kendaraanku menuju tempat parkir khusus roda dua. 

Sewaktu hendak memarkir motor buntutku, aku melihat seorang remaja laki-laki sedang duduk disebuah teras gedung tersebut. Ditangannya terdapat beberapa tumpukan koran yang masih rapi dan mungkin belum banyak yang laku dijual olehnya. Aku berusaha untuk tidak memperhatikannya karena aku sendiri tak butuh koran. Lagipula, kalau aku butuh koran, aku hanya bilang pada salah satu rekanku yang kerja di salah satu oplah koran terbesar di kota ini (Makassar). Aku tak ada felling bahwa sewaktu aku berjalan ke pintu masuk gedung nanti aku akan menerima tawaran si remaja tersebut.

Aku berjalan dengan terburu-buru sambil menonton jam tanganku yang sengaja aku pakai secara terbalik. Aku melihatnya, aku ternyata telat 15 menit dari janji yang aku sepakati. Saat aku lewat di depan remaja penjual koran tadi, dia langsung menawariku koran. Tapi aku tak punya rencana untuk membeli jualan anak remaja itu. Aku bermaksud untuk menghilang secepatnya dengan alasan nanti belinya karena aku dalam keadaan terburu-buru.
 Anak itu mengatakan sesuatu, 

“belilah korannya kak, aku mau beli buku. Kalau kakak beli korannya aku bisa beli buku untuk adekku.”

Aku tidak tahu itu hanya alasan atau memang kenyataan. Tapi aku sangat tersentuh dengan alasan itu, aku langsung menanyakan berapa harga korannya. Tapi ternyata harga korannya 5.000 rupiah padahal harga yang sesungguhnya 3.500 rupiah. Memang riskan juga sih. Tak habis pikir aku, aku langsung membelinya karena kasihan juga jika memang alasannya itu benar. Aku kasi uang 10.000 rupiah tapi sebenarnya itu ung buat makan siangku hari ini. Aku bisa mengalihkan budget lain untuk hari ini.

“Uang kembaliannya ambil saja sekalian, yang jelasnya buat dibeliin buku.”
Di kota kadang kita dikelabui oleh alasan-alasan seperti anak remaja tadi, tapi kadang ada memang yang justru nyata bukan alasan yang dibuat-buat atau hanya alasan semata untuk mendapatkan belas kasihan orang lain. Tapi aku serahkan pada yang Maha Tahu saja, mau anak tadi berbohong atau jujur semua akan kembali padanya jua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar