.........Welcome To My Blog,,,,
........This
blog provides information for friends on a true story, health, motivation, and much more,,,,,,
including course material though.............

Sabtu, 28 Februari 2015

Kenangan bersama Kucing kesayangan "Rico"



Malam ini, aku sempat menonton film rilisan tahun 2000, judulnya “My Dog Skip”. Film ini memang tergolong film untuk kalangan anak-anak tetapi aku juga menikmatinya. Film ini bercerita tetang seorang anak laki-laki berumur 9 tahun yang kurang akrab dengan dunia luar, hanya seorang lelaki tua yang lihai bermain besbol tapi harus berpisah karena mengikuti wajib militer di Prancis. Setelah ditinggal pergi kawan dewasanya, anak itu menjadi kesepian tanpa teman hingga tepat pada hari ulang tahunnya, keduaorangtua sang anak berinisiatif untuk memberikan kado hadiah berupa seekor anak anjing. Dari kado itulah membuat banyak perubahan pada diri anak tersebut, mulai mengenal lingkungan dan berteman dengan seorang perempuan yang juga memiliki hobi dengan anjing dan 3 orang kawan laki-laki yang sebaya dengannya serta dikenal dikalangan masyarakat sekitar.
Kisah dari film “My Dog Skip”, mengingatkanku pada masa kecilku. Sewaktu kecil aku juga perna memiliki seekor kucing. Sebenarnya dari dulu aku selalu bermimpi untuk memiliki seekor anjing lucu seperti pada film-film. Tapi, mimpi itu hanya tinggal mimpi yang tidak akan perna menjadi sebuah kenyataan karena anjing dalam agamaku memiliki najis mugholladhoh, semacam najis sangat berat yang disebabkan oleh air liurnya. Padahal aku sangat ingin bersahabat dengan anjing karena anjing memiliki ikatan yang kuat antara hewan tersebut dan pemiliknya. Contohnya saja anjing yang sudah melegenda dari negeri Matahari Terbit itu “Haciko”.
Aku memiliki kucing sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Kucing melata itu dipungut oleh almarhum tanteku. Dia memberikanku kucing itu untuk dipelihara dan kuberikan nama “Rico”. Sebenarnya nama itu tidak cocok karena kucing itu merupakan kucing betina. Tapi, aku punya alasan khusus mengapa aku menamakannya “Rico”. Itu karena aku menonton filmnya Rano Karno tapi aku sudah lupa apa nama filmnya itu. Dalam film itu, Rano memainkan peran sebagai seorang komdan batalion dan ditempatkan di daerah pegunungan. Saat berpatroli di hutan Rano mendapati gubuk tua yang tidak lain adalah kandang sekaligus rumah bagi seorang anak remaja dengan kulit berwarna (hitam). Dikiranya anak itu musuh tapi ternyata anak itu salah satu korban yang masih tersisa dari keganasan pemberontak yang ditinggal mati oleh orangtuanya. Nama anak itu “Rico”. Aku sangat suka dengan filmnya makanya untuk mengenangnya aku namakan kucingku “Rico” sama seperti filmnya Rano, anak dan kucing itu sama ditemukan dalam kondisi yang kurang lebih sama nasibnya. Sejak saat itulah aku menamakan kucingku “Rico”.

Saat aku pulang dari sekolah yang pertama aku cari adalah “Rico”. Kami sering makan bersama, tidur dan menemaniku saat sendirian di rumah. Yang paling lucu saat tidur. Kucing biasanya mencari tempat yang hangat, kucing paling jengkel dengan suasana yang lembab. Mula-mula saat ku tidur, “Rico” biasanya hanya melihat-lihat dari jauh tapi jika aku sudah terlelap barulah kucing itu masuk ke dalam sarungku. Ketika sudah bangun barulah aku tahu bahwa saat itu aku tidur bersama kucing, si kawan baikku.
Pada waktu makan tiba, kucing akan mendapatkan jatah makanan sewaktu selesai makan. Hal itu kami lakukan untuk memberikan pelajaran agar “Rico” makan di tempat yang telah disediakan. Tapi, jika aku makan snack atau mie remas pastilah kami berdua sama-sama. Biasanya satu bungkus itu kami makan berdua, setengahnya aku dan setengahnya lagi buat si “Rico”. Walaupun dia seekor hewan, aku sangat menghargainya. Jika sewaktu sholat dan masuk dalam sajadahku, aku tak ingin menggeser  tubuh “Rico”, tapi, aku lebih memilih untuk meghindarinya ataupun harus sujud di lantai tanpa beralaskan sajadah. Tapi namanya juga manusia, jika sampai berbuat usil kadang juga marah tapi semarah apapun akhirnya aku kembali berteman dan berbagi lagi dengannya.
Suatu hari aku perna menangis lantaran kucing itu menghilang. Namanya anak-anak tentu menangis adalah obat yang paling mujarab untuk suatu kehilangan. Aku mencarinya kemana-mana tapi tak ketemu, ternyata kucing itu kesasar dipagi-pagi buta dan ikut sama tetangga yang tinggal di kampung sebelah. Dua hari lamanya baru pulang, barulah aku merasa senang sampai-sampai aku kepikiran kucingnya sudah dicuri sama orang lain. Begitulah pemikiran anak-anak.
Butuh waktu yang lama bagi kami bersahabat tapi seiring bergantinya waktu, aku sudah masuk di bangku Sekolah Menengah atas dan harus tinggal di rumah keluarga di dekat sekolah. Jarak yang jauh dari rumahku dan tidak mungkin membawa “Rico” ke sana karena aku sendiri sementara numpang sama keluarga dekat. Ternyata “Rico” sudah termakan usia, jalannya sudah pincang, hingga suatu hari almarhum tanteku menemukannya di bawah kolong lemari sudah tak bernyawa. walaupun hanya seekor kucing, tanteku menguburkannya dengan pantas. Tubuhnya dibungkus oleh kain bekas dan dikuburkan di samping rumahnya. “Rico” adalah sahabat yang perna ada dan tinggal lama di rumah, tentu aku akan selalu mengingatnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar