.........Welcome To My Blog,,,,
........This blog provides information for friends on a true story, health, motivation, and much more,,,,,,
including course material though.............
........This blog provides information for friends on a true story, health, motivation, and much more,,,,,,
including course material though.............
Selasa, 24 Juni 2014
Jumat, 20 Juni 2014
TES Part 1
Kemarin baru-baru
diadakan tes SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) yang
diadakan oleh tiga Universitas negeri terbesar di kota Makassar yakni
Universitas Hasanuddin (UNHAS), Universitas Negeri Makassar (UNM), dan
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UIN-Alauddin). Setiap tes membuat
para peserta harus memiliki mental yang kuat untuk berani menerima kenyataan
karena kenyataan kadang bertolak belakang dengan realitas. Hasil yang
diharapkan kadang tidak semujur dengan apa yang kita bayangkan. Tentu kita
harus optimis dan yakin bahwa hasil yang bakalan diperoleh akan memuaskan
tetapi tidak cukup rasa optimis yang perlu ditumbuhkan karena dunia memiliki
lintasan sosial yang berbeda dengan zaman dulu.
Ok,
tidak usaha terlalu panjang lebar untuk menguraikan satu per satu hal tentang
optimis atau pesimisnya seseorang mengenai hasil dari tes yang dilakukan karena
kadang seorang yang sudah cukup optimis dan yakin lulus dari tes yang dilakukan
tetapi realitanya harus rela menelan pil pahit akibat kegagalan. Kadang, justru
yang pesimislah yang realita yang diperolehnya berpihak pada kenyataan yang
menggembirakan. Seperti itulah sandiwara dunia menurut sang pujangga.
Berbicara
mengenai tes SBMPTN, empat tahun yang lalu saya juga perna merasa hal yang
sama. Dari beberapa tes masuk perguruan tinggi negeri yang saya ikuti hasilnya
nihil dan membuat saya stress berat menerima kenyataan pahit. Mulanya dari
kegagalan mengikuti tes yang saya ikuti pada program jalur undangan dari UNHAS
akibat informasi yang minim dari sekolah dan universitas membuat saya harus
ikhlas dalam menyikapi kenyataan pahit itu. Ditambah pada saat tes di UNM untuk
tes UMPTN (sekarang SBMPTN). Kebetulan waktu itu, saya lagi memilih jurusan
Akuntansi pada opsi pertama dan Geografi diopsi kedua. Sekitar satu bulan
setelah tes tertulis dan keluar hasilnya ternyata saya gagal, akhirnya saya
mesti menelan pil pahit lagi akibat kegagalan tes.
Jumat, 25 April 2014
Semoga engkau tentang disana
Tak ada yang bisa lari dari-Nya, semua yang bernyawa pasti akan merasakan yang namanya kematian. Kepergianmu wahai tante sekaligus ibu buatku terlalu cepat, belum ada waktu untuk membalas semua kebaikan yang engkau beri, kini engkau telah kembali padaNya, kepangkuan sang Ilahi Rabbi.
Saya masih ingat sewaktu kita berangkat 3 tahun yang lalu menuju Makassar mengantarku mencari tempat kuliah. Sebuah pengorbanan yang begitu besar dalam dirimu, tulus dan ikhlas. Perjalanan yang begitu banyak rintangan. Aku ingin engkau mengingatnya,
Sehari sebelum berangkat, aku mendengar kabar bahwa aku tidak lulus tes masuk UMPTN di UNM, aku begitu stress bahkan sampai kehilangan akal sehat waktu itu, tetapi engkau punya banyak ide, memberiku motivasi dan kata ynag sempat aku ingat sekarang,”akko mo pa’rissi nyahamu anak, lohe ji tampa’ pa’kulaian, mintara lampaki naung ri mangkasara, ku urangko, gelea muliang ampa geleko tolong a kuliah.” [tidak usah bersedih nak, masih banyak tempat kuliah, besok kita ke Makassar, saya akan mengantarmu dan saya tidak akan pulang sebelum mendapatkanmu tempat kuliah]. Aku mulai bangkit dan berusaha bahwasanya ada dukungan yang kuat dari tanteku (mamaku ini).
Sabtu, 15 Maret 2014
Catatan hatianku di t4 KKN, "SUATU WAKTU"
Pagi yang begitu
membosankan, perut terasa keroncongan hanya secangkir kopi dan beberapa kue
kering menjadi sarapan pagi hari ini. waktu tak terasa, jarum jam sudah
menunjukkan angka 08;00 padahal waktu yang dibutuhkan untuk sampai di kantor
lumayan lama. Sebenarnya tak begitu lama tetapi karena kemacatan panjang yang
sering terjadi di tugu Adipura membuat perjalanan sering terganggu.
Sebungkus nasi kuning aku
beli dari seorang mbak yang tiap pagi menjajakan nasi kuning dengan jamu.
5000,- sudah cukup untuk menjadi teman pagi ini, mungkin sebungkus nasi kuning
sudah bisa membuatku bertahan sampai wkatu istirahat nanti.
Perjalanan seperti biasanya,
antrian kendaraan dari kejauhan sudah mulai tampak seperti ular. Kendaraan roda
dua tak mau kalah, jalanan tikus pun jadi rebutan, tak ada yang mau kalah satu
sama lain, semua ingin menang, sigap setiap saat, salah sedikit nabrak
kendaraan lain. hampir 20 menit usai di jalur itu baru terbebas dari kemacetan.
Ngebut, salip sana sini adalah pekerjaan nekat yang harus dilakukan. Jika tidak
waktu akan begitu lama dijalanan dan keterlambatan tak bisa dihindarkan lagi.
Untung pembimbingku mengerti tentang keadaan yang sering juga mereka lalui.
30 menit aku habiskan di
jalanan barulah sampai di kantor. Waktu yang begitu lama dibandingkan hari-hari
yang lalu. Capek sudah pasti, sebuah koran pagi sudah siap di meja security,
akupun langsung membacanya sambil ditemani oleh sebungkus nasi kuning. 10 menit
berlalu, aku berdiri dari kursi lipat berwarna merah yang sudah kusam dan rapuh
menuju ruangan dimana aku ditempatkan.
Waktu terus berjalan, tak
terasa aku meraba jam tangan yang
murahan yang melingkar dipergelangan tangan kiriku, ternyata sudah jam
09;15 menit. Waktu begitu berjalan cepat padahal aku baru sampai di ruangan
beberapa menit yang lalu. Belum ada pekerjaan yang diberikan kepadaku, aku
hanya mondar-madir sesekali menoleh ke arah karyawan yang sibuk di depan
monitor menyelesaikan pekerjaan gila yang tiap hari aku saksikan. Kadang aku
seperti tahanan yang merasa nyaman ketika menyelinap pandangan menatap jendela
yke arah jalan yang ramai lalu lalang kendaraan.
Tiba-tiba terdengar suara
halus dari salah satu keryawan, mr. x namanya. Sebuah kalimat ejekan terlontar
dari mulutnya yang ringan dengan kalmat-kalmat sindiran. Bahkan kadang menyayat
hati jika terlalu didalami kalimatnya. “apa yang kamu liat..?”, tidak perna
liat mobil yah..??”
Memang hari yang
menakjubkan, masih pagi sudah mendapat omelan dari karyawan. Tak ada yang bisa
ku perbuat kecuali hanya membalas dengan senyuman kontemporer yang pada
dasarnya hanya balasan ejekan. Tak lama waktu berselang, kuraih sebuah koran
lusu terbitan kemarin, halaman demi halaman aku bolak-balik, melirik
gambar-gambar yang ngetren dari halaman tersebut. Waktu itu aku tak tertarik
sama sekali untuk membaca, hanya berusaha untuk melewati masa yang membuatku
jengkel pagi itu, mungkin karena omelan tadi.
Sssttt, bisik jernih dari
seorang karyawan lain. “wah, bagus juga yah, anak kkn zaman sekarang kerjaannya
seperti bos-bos, sibuk baca-baca koran. Bukannya kerja malah baca koran.”
“bukan begitu pak, kebetulan
ini belum ada pekerjaan yang aku terima dari.”
2:0 adalah skor yang tak
mungkin terelakkan lagi, aku kalah ditambah omelan yang bisa membuat korban
strok . kalimat-kalimat pedas seperti peluru kaliber 3” 2 mm yang lepas landas
dari sebuah soutgan dengan kekuatan 2 meter per second. Biarlah waktu yang
menjawabnya, aku tak menghiraukan kalimat-kalimat itu lagi, walaupun kadang
sakit juga jadinya karena pada dasarnya kita sebagai manusia masih punya hati
dan harga diri.
Alasan tak akan mampu untuk
menyelamatkan diriku, jadi ku terima dengan senang hati walaupun kadang sakit
juga tetapi apalah boleh buat semua ada waktu dan kondisi dimana aku bisa
membalasnya. Aku tak ingin membalasnya dengan sebuah kalimat atau lainnya
tetapi aku ingin membalasnya dengan sebuah prestasi yang lebih dari mereka
punya. Mungkin hari ini aku jadi suruhannya dan hari ini mereka sudah jadi
karyawan tetapi tidak tertutup kemungkinan besok atau lusa aku yang akan
menyuruhnya atau bisa jadi akulah pimpinannya. Bumi ini berputar, waktu ini
akan terus berjalan ke depan, tak akan mungkin lagi kembali ke masa lalu hanya
masa depan yang bisa kita song-song dan biarlah masa lalu akan menjadi kenangan
terindah yang perna kita lalui.
“thanks
for reading in my story”
Warkop DG. Anas & Linmas
Apakah anda jijik jika melihat seorang anak sekolahan diwaktu jam sekolah berkeliaran di jalan atau Mall dan tempat-tempat lainnya...???
Dari problema remaja yang sering terjadi sekarang ini sehingga pemerintah kota sering melakukan sweping di tempat-tempat uang sering dikunjungi oleh anak-anak yang bolos dari sekolah pada jam pelajaran. Aksi main kucing-kucingan seringkali jadi tontonan warga dengan Satpol PP (Satuan Polisi pamong Praja) pada saat terjadi sweping.
Tentu mereka yang tertangkap dalam jaringan sweping tersebut akan dilaporkan pada pihak sekolah dan orangtuanya untuk diberikan pelajaran dan nasihat untuk tidak melakukan perbuatan yang kurang terpuji tersebut.Senin, 10 Februari 2014
"PEMANAH YANG BIJAK"
Saya perna membaca buku yang
berjudul “pemanah yang bijak”.
Dalam buku ini diceritakan
tentang dua kakak beradik yang memiliki hobi yang sama yaitu memanah. Keduanya lahir dari orangtua yang memiliki
hobi yang samapula. Kedua orangtuanya adalah atlet panahan yang terkenal.
Melihat anaknya memiliki hobi yang disandang oleh kedua orangtuanya tentulah
suatu kebahagiaan tersendiri, kedua orangtuanya dengan gigih melatih kedua
putra mereka setiap hari tanpa kenal lelah, seperti tiada hari tanpa latihan.
Seiring dengan berjalannya waktu
kedua anak tadi tumbuh menjadi remaja yang tangguh, kepiawaiannya memainkan
anak panah tak terelakkan lagi. Kedua orangtuanya melihat ternyata sang kakak
(si sulung) memiliki bakat yang lebih dibandingkan si adik (si bungsu) sehingga
orangtua tadi lebih fokus meluangkan waktunya untuk melatih si sulung. Beberapa
pertandingan yang sempat diikuti oleh si sulung tak satupun yang mengecewakan
bahkan selalu naik podium dan menerima berbagai penghargaan. Sementara si
bungsu masih belum bisa menyaingi kelihaian si sulung memainkan anak panah.
Meleset dalam memanah adalah
suatu masalah besar karena sudah tentu tidak akan mengenai sasaran, si bungsu
akhirnya belajar dari suatu kesalahan–kesalahan yang telah lalu, berlatih untuk
sabar dan berpikir positif serta menerima kekalahan dari pesaing-pesaingnya
termasuk sang kakak. Berangkat dari pengalaman si bungsu pandai menggunakan
waktu luangnya untuk belajar memainkan anak panah tanpa bimbingan kedua
orangtuanya sementara si sulung sudah terbuai oleh kemenangan-kemenangan yang
diraihnya, sudah jarang lagi berlatih dan
lebih mengandalkan instingnya saja serta kemampuan yang telah dimiikinya.
Langganan:
Postingan (Atom)